Saturday, February 23, 2013

Lebong Tandai Desa Tambang Emas


Berwisata ke desa yang pada zaman dulu sempat menjadi kota kecil yang ramai. 
Desa Lebong Tandai, Kecamatan Napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu. Daerah kaya akan emas ini adalah tambang emas sejak jaman penjajahan Belanda tahun 1910 lalu warga  mengelolanya berkelompok.



Ada beberapa pilihan untuk menuju lokasi Desa Lebong Tandai Kecamatan Napal Putih Bengkulu Utara ini, kita dapat memilih melalui rute Kota Bengkulu - Ketahun - Napal Putih, melalui sungai dengan menaiki perahu motor tempel.



Ini perjalanan yang paling seru dan sangat berkesan. Dari muara sungai Ketahun kita akan menyusuri terjangan air yang kadang deras kadang tenang sepanjang perjalanan. Pemandangannya luar biasa, pepohonan di kiri kanan sungai yang lebar. Akar yang menjuntai menyentuh aliran air. Sesekali kita melihat monyet berlompatan di dahan-dahan pohon atau jika beruntung bisa melihat burung Enggang di puncak pohon yang tinggi dan sudah tak berdaun.  Atau tiba-tiba di sebuah tikungan sungai muncul perahu motor dari arah berlawanan yang menimbulkan riak gelombang yang akan menggoyang perahu yang kita tumpangi,

Kita juga bisa melalui rute Bengkulu -  Napal Putih dengan kendaraan roda empat atau melalui rute Muara Aman (Ibu Kota Kabupaten Lebong) – Napal Putih. 

Perjalanan dari kota Bengkulu memakan waktu sekitar 3, 5 jam dengan menggunakan angkutan umum menuju Desa Napal Putih. Sedangkan jika kita memilih rute Muara Aman - Napal Putih, kita akan menempuh perjalanan dengan angkutan umum sekitar 4 jam.



Setelah tiba di Desa Napal Putih, kita kemudian menuju Stasiun Molek (sebutan untuk kereta  lori berukuran 5 x 1 meter, bermesin diesel 10 PK yang bermuatan maksimal 10 penumpang). 


Pada tahun 1982 - 1988 pernah ada kendaraan Lodies alias Locomotive Diesel punya PT.Lebong Tandai, nama perusahaan sebelum menjadi PT.Lusang Mining. Waktu itu kereta ini sudah mirip kereta yang ada di zaman modern sekarang, dengan gerbong-gerbong yang bagus.






Stasiun  ini terletak di ujung desa, di pinggir Sungai Ketahun. Biasanya, terminal ini ramai pada Senin dan Kamis. Sebab pada hari itu para penambang dari luar Kabupaten Bengkulu Utara misalnya dari Kabupaten Lebong dan Rejang Lebong berdatangan menuju Desa Lebong Tandai. 




Perjalanan dengan menggunakan Molek menuju Lebong Tandai dilakukan sore hari, sekitar pukul 17.00 WIB. Hal ini guna menghindari terjadinya tabrakan dikarenakan Molek dari Lebong Tandai  tiba di Napal Putih pukul 16.00 WIB karena jalur rel hanya satu. Jika terpaksa bertemu dengan Molek yang lain yang berlawanan arah atau ada Molek yang macet di jalan, salah satu Molek dapat disingkirkan keluar rel, cukup hanya dengan tenaga 3 orang dan Molek pun dapat diangkat keluar rel. 



Biasanya, para “masinis” Molek memilih untuk berjalan beriringan, hal ini dimaksudkan untuk mempermudah perjalanan jika ada hambatan. Perjalanan menjelang hari mulai gelap ini memberi kesan tersendiri bagi mereka yang menyukai wisata alam karena kita hanya bisa melihat hutan di kanan kiri dan Molek yang berjalan di depan atau di belakang Molek yang kita tumpangi. Jangan lupa membawa bekal makanan dan minuman untuk bekal di jalan karena perjalanan ini cukup panjang karena menempuh 33 Km panjangnya rel kereta.




Setelah kita menyusuri rel yang membelah hutan sambil menikmati bunyi-bunyian binatang malam sebelum tiba di Desa Lebong Tandai, kita akan melewati 3 terowongan yaitu terowongan lubang panjang (300 meter), lubang tengah (100 meter) dan melewati jembatan Gelumbuk 



kemudian terakhir lubang pendek (50 meter). Setelah melewati terowongan itu, sampailah kita di Desa Lebong Tandai. 

Pemandangan desa dari atas bukit sungguh menakjubkan, seolah kehidupan di dalam sebuah kuali atau panci . 




Warung-warung berjejer dengan rapi di sepanjang jalan rel di tengah-tengah desa. Masyarakat sebagian duduk ngobrol, main kartu dan menonton TV. Bahkan tak sedikit pula yang bergegas menuju Molek yang baru tiba karena mengambil pesanan barang yang dibeli dari luar desa. 




Semua orang pasti akan takjub bercampur kagum ketika tiba di desa ini. Betapa tidak, setelah melewati perjalanan selama 3, 5 jam dengan pemandangannya hanya hutan, tiba-tiba di depan kita terbentang sebuah desa yang penuh dengan  nuansa modern. Listrik yang terang-benderang dan tak pernah mati memancar  dari setiap rumah dan sudut desa. 



Hampir di tiap rumah memiliki pesawat TV walaupun ukuran kecil. Alat elektronik seperti TV, Radio dan sejenisnya adalah salah satu hiburan bagi masyarakat yang hidup di daerah terpencil ini. Berbicara tentang hiburan, memang tradisi itu sudah cukup lama tertanam di masyarakat. 





Perusahaan Mijnbouw Maatschappij Simau milik Belanda tahun 1910 masuk ke Lebong Tandai dan menguasai tambang ini. Saat itu dibangun kamar bola (tempat bermain biliar), lapangan basket, lapangan tenis, rumah kuning (rumah bordil/lokalisasi) dan bioskop. Hanya bioskop dan rumah  kuning yang bangunannya sudah tidak ada lagi. Perusahaan Belanda itu juga setiap tahun mendatangkan penari ronggeng dari Batavia.  Hal ini dapat dibuktikan dengan nama sebuah jembatan menuju Lebong Tandai yaitu jembatan Dam Ronggeng I dan Ronggeng II. Dinamakan jembatan Dam Ronggeng karena pada saat peresmiannya mengundang penari-penari ronggeng dari Batavia. 

Tradisi hiburan itu berlanjut hingga tahun 1980-an. Di desa ini ada 3 kelompok musik/band yaitu Anior, Trinada dan Puspa Ria.



Desa ini terletak 500 meter dari permukaan laut, di sebelah selatan berbatasan dengan Bukit Husin dan sebelah utara berbatasan dengan Bukit Baharu. Tercatat penduduknya 120 KK atau sekitar 360 jiwa ini dibagi menjadi 3 RT dan 2 Dusun. Desa ini pernah mendapat predikat sebagai desa teladan pada masa Kepala Desa Parman memimpin. Penduduk di sini cukup heterogen, ada suku Jawa, keturunan Tionghoa, Sunda, Batak, Padang, Rejang dan penduduk Pekal yang sejak awal mendiami wilayah itu. 




Tak heran jika penduduk disini dalam percakapan sehari-hari menggunakan  2 bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Pekal.  Namun walaupun heterogen dan sudah tersentuh modernisasi, kegotong-royongan warga masih cukup kuat, termasuk keramah-tamahan jika bertemu dengan orang yang baru datang. 



Desa ini dulunya pernah ditinggalkan penduduknya pada tahun 1988 karena pengusiran yang dilakukan oleh PT Lusang Mining, sebuah perusahaan PMA yang sahamnya sebagian dimiliki oleh Australia dan sebagian sahamnya milik keluarga Cendana (Mantan Presiden RI, Soeharto).  




Diantaranya, tambang emas tradisional, eks Rumah Sakit  Belanda, kamar bola, Rumah Simau atau bangunan terbuat dari kayu yang mirip rumah panjang khas suku Dayak Kalimantan, pemakaman Belanda, pemakaman  China, makam pahlawan, gedung bulutangkis Belanda, Air Panas Alami, Alat Tambang Kuno, Sungai Lusang, Hutan TNKS dan kerajinan perak.

Catatan lain ttg Lebong Tandai:


Lebong Tandai Gold Deposit, Indonesia, 1991
This account by Alan Goode - who also provided the pictures - should be read along with the earlier article by Gerard de Graaf. Two extra pictures at the end were added on 26th October 2012.

In 1991, the Lebong Tandai mine was owned by PT Lusang Mining, controlled by Dr Jusuf Merukh, who was also a partner of Aberfoyle Resources Ltd in exploration of the surrounding large Contract of Work held by PT Ketaun Mining. The surrounding CoW included two past gold mines of the Dutch era, the major Lebong Donok deposit and the smaller Lebong Sulit deposit, both on the same major structure as Lebong Tandai. These were all epithermal in nature, although Tandai was somewhat different in style to Donok and Sulit. All deposits were epithermal and high grade (approximately 0.5 oz/tonne Au) in nature, with the two larger mines producing over 1 million ounces each, mostly during the Dutch era.
The visit was made by Rod Jones and Alan Goode (Aberfoyle Resources) accompanied by consultant Dick Henley in March 1991, all guests of Dr Merukh. At the time, Alan Goode from Melbourne was President Director of PT Ketaun Mining, with Rod Jones the Exploration Manager based in Jakarta. Dick Henley consulted to Aberfoyle on its exploration in Sumatra.
Apart from the interesting aspects of the mine and associated “village” itself, one of the very unusual aspects of the trip were the modes of travel in getting to this very remote mine in the Sumatran jungle.
1. A normal 4-wheel drive by standard roads along the coast from Bengkulu to Ketaun at the mouth of Sungei (River) Ketaun
2. River transport by motorised canoe up the Ketaun to the river port of Napal Putih
3. Transport by “miniature” train from the river port to the mine site, one of the most fascinating parts of the trip.


 Theindonesiatoday.com - Jusuf Merukh, owner of Merukh Enterprises, which holds substantial shareholding in PT Newmont Nusa Tenggara, has reportedly passed away last night.
People close to the businessman said Merukh has passed away, but no confirmation from the family yet. The family will fly Merukh to Singapore to be buried there. His wife stays in Singapore.
Jusuf, known as the King of Mining License, was born in Rote Island, East Nusa Tenggara province in June 10, 1936. He was a politician at Partai Demokrasi Indonesia (PDI). 
Other than Newmont Nusa Tenggara, Merukh's PT Lebong Tandai is partner of Avocet Mining in a gold mine in North Sulawesi.
Rudy Merukh is now CEO of Merukh Enterprises, holding company with interests in various sectors, including airline. ( ferdi@theindonesiatoday.com)
Jusuf Merukh - Merukh Enterprises - NewmontNusa Tenggara


cek: grup Lebong Tandai

bahasa napal putih adalah bahasa pekal:
Uhang aok go sebenah yu manyok yang hebat hebat ga luah napal putih...
tapi pide kehebatan iyu cado di labek ga doson yu snihi..??

No comments:

Post a Comment

Bandwidth Speed Test